Kayu manis secara taksonomi berasal dari genus Cinnamomum yang tergabung dalam famili Lauraceae. Dalam lanskap perdagangan global dan botani komersial, terdapat dua spesies yang paling dominan:

  1. Cinnamomum verum (sinonim C. zeylanicum): Sering disebut sebagai “kayu manis sejati” atau kayu manis Ceylon, endemik di Sri Lanka. Spesies ini memiliki lapisan kulit yang sangat tipis, rapuh, dan profil rasa yang lebih halus.
  2. Cinnamomum cassia (serta kerabatnya seperti C. burmannii dari Indonesia dan C. loureiroi dari Vietnam): Sering disebut sebagai cassia, spesies ini mendominasi pasar global modern. Kulit kayunya lebih tebal, kasar, dengan intensitas rasa pedas yang lebih tajam.

Seperti halnya cengkeh dan pala, kayu manis adalah salah satu rempah kuno yang memicu pembentukan rute perdagangan transkontinental, jauh sebelum era modern. ​Di Mesir Kuno (milenium ke-2 SM), kayu manis diimpor dengan harga yang eksorbitan. Rempah ini tidak hanya dimanfaatkan sebagai parfum dan persembahan religius, tetapi juga memiliki fungsi biokimia sebagai agen antimikroba dalam proses mumifikasi.

​Selama berabad-abad, pedagang Arab dan Fenisia memonopoli pasokan kayu manis ke dunia Mediterania (Yunani dan Romawi). Untuk membenarkan harganya yang setara atau bahkan lebih mahal dari emas, serta untuk menyembunyikan sumber aslinya, para pedagang Arab menciptakan mitos biologi. Salah satu yang paling terkenal adalah legenda Cinnamologus, seekor burung raksasa yang konon membangun sarangnya dari batang kayu manis di tebing yang tak dapat diakses manusia.

Memasuki abad ke-15, obsesi bangsa Eropa untuk mematahkan monopoli rute darat Venesia-Arab mendorong bergulirnya Abad Penjelajahan (Age of Discovery). Pada tahun 1518, penjelajah Portugis tiba di Ceylon (Sri Lanka), sumber utama Cinnamomum verum. Mereka segera mendirikan benteng militer dan memperbudak populasi lokal untuk mendominasi produksi kayu manis dunia. Pada pertengahan abad ke-17 (1638-1658), Kongsi Dagang Hindia Timur Belanda (VOC) beraliansi dengan Kerajaan Kandy setempat untuk mengusir Portugis. Setelah berhasil, VOC justru berkhianat dan mengambil alih monopoli eksklusif tersebut. VOC menerapkan sistem kerja paksa (chalia) yang brutal dan memberlakukan hukuman mati bagi siapa saja yang menyelundupkan atau menjual bibit kayu manis secara ilegal. Pada tahun 1796, Imperium Britania mengambil alih Ceylon dari Belanda. Namun, pada titik sejarah ini, kelangkaan artifisial kayu manis mulai runtuh. Spesies Cinnamomum lain mulai dibudidayakan secara masif di luar habitat aslinya, seperti di Jawa, Sumatra, hingga Amerika Selatan, mendesentralisasi kekuatan pasar dan mengubah kayu manis dari komoditas elitis menjadi rempah yang dapat diakses secara global.

Leave a Comment