Jintan putih, yang secara taksonomi diklasifikasikan sebagai Cuminum cyminum, merupakan tanaman herba berbunga semusim (annual) yang tergabung dalam famili Apiaceae (sebelumnya Umbelliferae), satu keluarga dengan seledri, peterseli, dan adas. Secara morfologi, tanaman ini berukuran relatif kecil, tumbuh dengan ketinggian 30–50 cm, memiliki batang ramping yang bercabang, serta daun majemuk yang menyirip sangat halus seperti benang. Bunganya berukuran kecil, berwarna putih atau merah muda, dan tersusun dalam bentuk payung (umbel). Bagian komersial yang sering disebut sebagai “biji” jintan putih secara botani sebenarnya adalah buah kering berjenis mericarp berbentuk memanjang (fusiform) dengan rusuk-rusuk membujur.
Secara biogeografi, Cuminum cyminum diyakini berevolusi dan berasal dari wilayah Mediterania Timur, Levant (Syam), hingga Asia Selatan. Berbeda dengan rempah-rempah eksotis Asia Tenggara yang baru memicu gelombang perdagangan global di abad pertengahan, jintan putih telah menjadi komoditas fundamental sejak peradaban manusia yang paling awal. Bukti arkeobotani menunjukkan bahwa jintan putih telah dibudidayakan secara ekstensif ribuan tahun sebelum masehi. Benih jintan putih ditemukan dalam penggalian situs arkeologi Tell el-Daba di Mesir, yang berasal dari milenium kedua SM. Bagi masyarakat Mesir Kuno, jintan putih tidak hanya berfungsi sebagai bumbu kuliner, tetapi juga memiliki peran saintifik dalam proses mumifikasi karena sifat antiseptik dan antimikrobanya yang kuat.
Dalam literatur Yunani kuno, jintan putih didokumentasikan oleh bapak botani, Theophrastus, dan bapak kedokteran, Hippocrates. Di kebudayaan Yunani, jintan putih sempat menjadi simbol keserakahan (istilah kyminopristes atau “pembelah jintan” ditujukan pada orang yang sangat kikir). Sebaliknya, di Kekaisaran Romawi, jintan putih sangat dihargai dan menjadi bumbu esensial sehari-hari. Bangsa Romawi menggunakan jintan putih secara masif sebagai alternatif pengganti lada hitam (Piper nigrum) yang harganya jauh lebih mahal dan sulit didapat dari India. Gelombang ekspansi bangsa Arab dan Moor membawa jintan putih ke Afrika Utara dan Semenanjung Iberia (Spanyol dan Portugal). Ketika Abad Penjelajahan (Age of Discovery) dimulai, para penjelajah Spanyol dan Portugis mengintroduksi Cuminum cyminum ke benua Amerika. Tanaman ini beradaptasi dengan sangat baik di lanskap Mesoamerika, sehingga jintan putih dengan cepat berakulturasi dan kini menjadi tulang punggung profil rasa dalam gastronomi Meksiko (seperti pada chili con carne) maupun wilayah Amerika Latin lainnya.

