Pulosari, atau yang secara taksonomi dikenal sebagai Alyxia reinwardtii Bl. (sering bersinonim dengan Alyxia stellata), merupakan tumbuhan perdu merambat yang tergabung dalam famili Apocynaceae. Secara morfologi, pulosari tumbuh sebagai semak liana berkayu dengan batang berbentuk bulat dan bercabang. Tumbuhan ini memiliki daun tunggal berbentuk lonjong dengan warna putih kehijauan, serta menghasilkan perbungaan di ketiak daun yang mahkotanya berbentuk corong kecil. Simplisia atau bagian tanaman yang paling bernilai dari spesies ini adalah kulit batangnya (Alyxiae Cortex), yang secara makroskopis memiliki wangi khas yang tajam namun berpadu dengan profil rasa yang pahit.

Pemanfaatan pulosari sebagai bahan pengobatan primer telah didokumentasikan secara apik dalam literatur-literatur medis dan budaya kuno sejak berabad-abad silam. Kulit pulosari tercatat secara eksplisit dalam berbagai manuskrip klasik Nusantara seperti Serat Centhini, Buku Jampi, dan Kitab Tibb. Dalam manuskrip-manuskrip bersejarah tersebut, pulosari kerap dijadikan bahan fundamental pembuatan boreh (param gosok luar) yang diracik bersama bawang merah, keling sumba dara, dan putik nyiur hijau yang ditumbuk halus untuk mengatasi keluhan “panas dingin luar dalam”. Secara historis, pulosari juga berperan sebagai salah satu tonggak awal tata rias dan perawatan tubuh tradisional Indonesia. Sejak era keraton, pulosari digunakan dalam ramuan lulur, dikukus dan ditumbuk bersama bunga setaman, bunga cempaka, serta air dedes. Penggunaan turun-temurun untuk merawat kulit wajah dan tubuh ini kini terbukti memiliki validasi saintifik yang presisi lewat uji klinis ekstrak etanol pulosari sebagai inhibitor tirosinase.

Leave a Comment