Fragmen yang ditemukan merupakan artefak berbahan batu andesit berwarna abu-abu kecokelatan dengan tingkat pelapukan sedang hingga tinggi. Permukaan batu menunjukkan tekstur kasar akibat proses pelapukan jangka panjang, ditandai dengan abrasi pada bagian tonjolan relief, pori-pori yang mulai terbuka, serta hilangnya detail pahatan pada beberapa sisi. Secara umum, fragmen masih memperlihatkan bekas pengerjaan manusia berupa pahatan yang membentuk elemen dekoratif.

Artefak berbentuk tidak utuh akibat patahan pada beberapa bagian. Salah satu sisi memperlihatkan bentuk membulat menyerupai kubah yang dihiasi garis-garis vertikal sejajar dengan kedalaman dan jarak yang relatif seragam. Garis-garis tersebut dibuat menggunakan teknik pahat dan mengikuti kontur permukaan batu, sehingga menunjukkan bahwa unsur tersebut merupakan bagian dari desain asli, bukan akibat pelapukan.

Di bawah bagian membulat tampak tonjolan yang dipahat membentuk elemen plastis. Walaupun kondisinya telah aus, bentuk tersebut mengindikasikan kemungkinan merupakan bagian dari ornamen atau atribut figuratif. Pada sisi belakang terlihat bidang patahan yang memperlihatkan struktur batu andesit yang kompak, menunjukkan bahwa fragmen ini merupakan bagian dari artefak yang lebih besar.

Teknik pengerjaan menunjukkan kemampuan pemahat yang cukup baik. Relief dibentuk dengan pahatan halus, kemudian dirapikan pada bagian permukaan sehingga menghasilkan pola yang simetris. Pelapukan telah menghilangkan sebagian detail, tetapi pola pahatan utama masih dapat dikenali.

Berdasarkan karakter morfologi, fragmen ini diduga merupakan bagian kepala arca, khususnya bagian rambut atau mahkota. Garis-garis vertikal yang melengkung mengikuti bentuk permukaan menyerupai representasi helaian rambut, jalinan rambut (jata), atau ornamen mahkota yang lazim ditemukan pada arca Hindu–Buddha masa klasik di Jawa Timur. Alternatif lain adalah bagian dari ornamen arsitektural berbentuk kīrtimukha atau elemen dekoratif lain, tetapi bukti visual yang tersedia saat ini lebih mendukung interpretasi sebagai fragmen arca.

Dari segi kronologi, teknik pahat, penggunaan batu andesit, serta gaya pengerjaan menunjukkan kemiripan dengan tradisi seni pahat Jawa Timur pada masa Kadiri hingga Majapahit (sekitar abad ke-12–15 Masehi). Namun demikian, karena artefak hanya tersisa dalam bentuk fragmen dan tidak memiliki atribut diagnostik yang lengkap seperti wajah, mahkota utuh, prabhamandala, atau bagian tubuh penentuan identitas tokoh maupun periodisasi secara lebih spesifik belum dapat dilakukan.

Leave a Comment