Arca yang diidentifikasi sebagai Arca Prajñāpāramitā merupakan artefak berbahan batu andesit berwarna abu-abu gelap dengan kondisi pelestarian yang relatif baik, meskipun pada beberapa bagian permukaan telah mengalami pelapukan akibat faktor usia dan lingkungan. Permukaan batu memperlihatkan abrasi ringan pada bagian wajah, lipatan busana, serta ornamen hias, namun secara keseluruhan detail pahatan masih tampak jelas. Kondisi tersebut memungkinkan dilakukan analisis terhadap unsur ikonografi, gaya seni, serta teknik pemahatan yang menjadi karakteristik seni pahat klasik Jawa Timur.
Secara morfologis, arca menggambarkan sosok perempuan yang duduk dalam posisi padmāsana (bersila di atas lapik teratai) dengan tubuh tegak dan proporsional. Sikap duduk tersebut melambangkan kestabilan batin, meditasi, serta kesempurnaan spiritual. Wajah dipahat berbentuk oval dengan mata setengah terpejam, hidung mancung, bibir tipis membentuk senyum lembut, serta ekspresi yang tenang. Penggambaran wajah yang halus merupakan ciri khas seni pahat Singhasari yang mengutamakan keseimbangan antara keindahan fisik dan makna spiritual.
Bagian kepala dihiasi kirita-makuta yang dipahat dengan detail ornamen yang rumit. Rambut disusun rapi di bawah mahkota, sedangkan kedua telinga mengenakan anting panjang yang menjuntai hingga bahu. Leher dihiasi kalung bertingkat, sementara kedua lengan dilengkapi kelat bahu, gelang tangan, serta berbagai perhiasan lain yang menunjukkan kedudukannya sebagai tokoh suci dalam tradisi Buddha Mahayana. Busana berupa kain panjang menutupi tubuh bagian bawah dengan lipatan-lipatan yang dipahat secara halus, memperlihatkan kemampuan teknis pemahat dalam mengolah batu andesit menjadi karya seni yang bernilai tinggi.
Sikap tangan pada arca memperlihatkan kedua tangan berada di depan dada. Tangan kanan berada lebih tinggi, sedangkan tangan kiri berada di bawahnya dalam posisi yang menunjukkan gerakan simbolis. Berdasarkan kondisi arca, terdapat kemungkinan bahwa tangan pada awalnya memegang atribut tertentu, seperti tangkai bunga teratai (padma) yang menopang kitab Prajñāpāramitā Sūtra, sebagaimana lazim ditemukan pada ikonografi Dewi Prajñāpāramitā. Namun, atribut tersebut tidak lagi terlihat karena diduga telah hilang akibat kerusakan atau pelapukan. Di belakang kepala tampak prabhamandala yang menjadi simbol cahaya kesucian dan kebijaksanaan.
Teknik pengerjaan arca menunjukkan kualitas seni pahat yang sangat tinggi. Anatomi tubuh dipahat secara proporsional, sementara setiap detail perhiasan, lipatan busana, dan mahkota dikerjakan dengan ketelitian yang tinggi. Permukaan batu dihaluskan setelah proses pemahatan sehingga menghasilkan kesan lembut dan harmonis. Karakteristik tersebut merupakan salah satu ciri utama seni pahat Singhasari yang mencapai puncak perkembangannya pada abad ke-13 Masehi.
Berdasarkan karakter ikonografi, arca ini diidentifikasi sebagai Prajñāpāramitā, yaitu personifikasi kebijaksanaan tertinggi dalam ajaran Buddha Mahayana. Kata Prajñā berarti kebijaksanaan, sedangkan Pāramitā berarti kesempurnaan. Dengan demikian, Prajñāpāramitā dimaknai sebagai kesempurnaan kebijaksanaan, yaitu kebijaksanaan yang mampu membawa seseorang menuju pencerahan (bodhi). Dalam perkembangan Buddhisme Mahayana, Prajñāpāramitā dipersonifikasikan sebagai dewi yang menjadi sumber seluruh pengetahuan dan kebijaksanaan para Buddha dan Bodhisattwa.
Dalam konteks sejarah Indonesia, Arca Prajñāpāramitā merupakan salah satu karya seni pahat paling monumental dari masa Kerajaan Singhasari pada abad ke-13 Masehi. Banyak ahli mengaitkan arca ini dengan Ratu Ken Dedes, permaisuri Raja Ken Arok, yang setelah wafat diwujudkan sebagai Prajñāpāramitā sesuai tradisi arca perwujudan (deifikasi) yang berkembang pada masa Singhasari. Tradisi tersebut didasarkan pada konsep bahwa seorang raja atau ratu yang telah meninggal dipersatukan dengan dewa atau dewi tertentu sebagai bentuk penghormatan sekaligus legitimasi spiritual terhadap kekuasaan kerajaan. Walaupun identifikasi sebagai Ken Dedes masih menjadi bahan diskusi di kalangan sejarawan dan arkeolog, secara umum arca ini diakui sebagai representasi tertinggi seni pahat klasik Jawa Timur. Dari segi kronologi, penggunaan batu andesit, teknik pahatan yang halus, komposisi tubuh yang proporsional, serta detail ornamen menunjukkan bahwa arca ini berasal dari periode Singhasari sekitar abad ke-13 Masehi. Arca Prajñāpāramitā dianggap sebagai salah satu mahakarya seni rupa klasik Indonesia karena memperlihatkan perpaduan yang harmonis antara nilai estetika, ajaran keagamaan Buddha Mahayana, dan tradisi seni pahat Nusantara. Oleh karena itu, arca ini memiliki nilai sejarah, arkeologi, dan ikonografi yang sangat penting dalam memahami perkembangan agama Buddha, seni pahat klasik, serta kebudayaan Jawa Timur pada masa Singhasari.

