Arca Harihara merupakan salah satu manifestasi ikonografi yang paling kompleks dan sarat makna dalam tradisi seni patung keagamaan Hindu. Secara etimologi, nama “Harihara” terbentuk dari penggabungan dua nama dewa utama dalam pantheon Hindu, yaitu Hari yang merujuk pada Dewa Wisnu sebagai pemelihara kosmos, dan Hara yang merujuk pada Dewa Siwa sebagai pelebur alam semesta. Arca ini tidak sekadar menggambarkan dua dewa yang berdiri berdampingan, melainkan meleburkan keduanya ke dalam satu wujud tubuh tunggal yang terbagi dua secara simetris dari ujung kepala hingga telapak kaki, menciptakan sebuah karya seni keagamaan yang unik dan berfilsafat tinggi.

Dari sudut pandang teologis dan filosofis, kemunculan konsep Harihara merupakan simbol puncaknya sinkretisme atau penyatuan antara dua aliran/sekta terbesar dalam agama Hindu, yakni Waisnawa (pemuja Wisnu) dan Siwaisme (pemuja Siwa). Pada masa lampau, kerap terjadi persaingan teologis antara pengikut Siwa dan Wisnu mengenai siapa dewa yang paling agung di jagat raya. Konsep Harihara hadir sebagai jawaban dogmatis dan sarana rekonsiliasi yang mengajarkan bahwa Siwa dan Wisnu sejatinya adalah dua aspek dari satu hakikat Realitas Tertinggi (Brahman), di mana pemeliharaan dan penghancuran merupakan dua proses alamiah yang saling melengkapi dan tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Detail keahlian seniman masa lalu terlihat sangat jelas dari pembagian ikonografi arca yang terbelah tepat di tengah. Pada sisi kanan tubuh arca (bagian Hara atau Siwa), figur ini dihiasi dengan mahkota pilinan rambut (jatamakuta), hiasan bulan sabit (ardhacandra) atau tengkorak (kapala), serta memiliki setengah bagian mata ketiga (trinetra) pada dahi kanan. Tangannya memegang atribut khas Siwa seperti trisula atau tasbih (aksamala). Sebaliknya, pada sisi kiri tubuh arca (bagian Hari atau Wisnu), figur tersebut mengenakan mahkota tinggi berbentuk tabung berhias permata (kiritamakuta) serta memegang atribut khas Wisnu seperti senjata cakram (cakra), trompet kerang (sangka), gada, atau benih tanaman (kataka).

Dalam konteks sejarah Nusantara, tradisi pembuatan Arca Harihara mengalami perkembangan yang sangat krusial, khususnya pada era Jawa Kuno abad ke-13 hingga ke-14 Masehi. Penggambaran Harihara di Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai sarana peribadatan murni, melainkan juga diadopsi ke dalam konsep Dewaraja—sebuah keyakinan bahwa raja yang memerintah di bumi merupakan manifestasi atau titisan dewa di alam manusia. Ketika seorang raja mangkat, dibuatkan arca perwujudan (arca deified) yang memadukan ciri-ciri dewa dengan sifat-sifat mulia sang raja untuk ditempatkan di candi pedharmaan (tempat penghormatan terakhir).

Contoh yang paling monumental dan fenomenal di Indonesia adalah Arca Harihara yang berasal dari Candi Simping (Sumberjati, Blitar, Jawa Timur), yang kini menjadi salah satu masterpise koleksi Museum Nasional Indonesia di Jakarta. Arca ini dibuat sebagai perwujudan pedharmaan untuk Raden Wijaya (bergelar Kertarajasa Jayawardhana), pendiri dan raja pertama Kerajaan Majapahit yang wafat pada tahun 1309 M. Visualisasi Raden Wijaya sebagai Harihara dinilai sangat tepat secara historis dan politis, mengingat beliau berhasil menyatukan kembali tanah Jawa yang terkoyak akibat pemberontakan dan invasi asing, sekaligus menjadi pelindung bagi seluruh rakyatnya. Penggunaan figur Harihara bagi Raden Wijaya memuat pesan politik dan spiritual yang amat mendalam bagi legitimasi Kekaisaran Majapahit. Sebagai Hari (Wisnu), Raden Wijaya dikenang sebagai pengayom, pemelihara kedamaian, dan pemakmur kerajaan; sedangkan sebagai Hara (Siwa), beliau dipandang sebagai penguasa yang memiliki kekuatan untuk menghancurkan musuh, memusnahkan kejahatan, dan mengakhiri era kekacauan. Dengan demikian, Arca Harihara bukan sekadar peninggalan batu pahat biasa, melainkan sebuah mahakarya yang memadukan keagungan seni, kedalaman filsafat agama, serta simbolisme kejayaan politik Majapahit di masa emasnya.

Leave a Comment